Senin, 14 November 2011

MEMBENTUK RUMAH TANGGA ISLAMI


Dalam hiruk pikuk SEA Games 2011 ini, melihat peserta yang demikian besar semangat demi negara tercinta, serta even pemilihan DAI Muda d salah satu stasiun TV, saya sempat terfikir bagaima tercetak muda mudi yang demikian luar biasa, di tengah banyaknya kasus-kasus kriminal oleh kaum muda juga. Darimana mereka dapatkan kemauan untuk berprestasi, darimana mereka peroleh semangat untuk maju dan memajukan? Hmm..saya jadi teringat ungkapan bahwa "rumah adalah pendidikan pertama anak" (agak mekso ya?harusnya Ibu tempat pendidikan pertama anak ^^ ga beda jauh lah). pastilah background pendidikan mereka di rumah minimal berpredikat "Baik". Akhirnya, saya terfikir untuk membuat tulisan tentang "keluarga". (Hmm....bukan karena saya yang ingin segera berkeluarga..hehe).
Baik atau tidaknya sebuah keluarga, saya rasa dan saya yakin cukup berpengaruh kepada bagaimana anak menjalankan perannya dalam masyarakat. Baik tidaknya keluarga, saya rasa dan saya yakin (lagi), pastilah berawal dari "permulaan" yang baik, minimal dari niat orang tua dahulu membentuk rumah tangga.
Nah, mau tidak mau, kita sekarang perlu juga menilai bagaimana awalnya rumah tangga harus dibangun. Sebagai manusia yang memang sudah memiliki fitrah menyukai keindahan dan kedamaian (kecuali yang tidak Allah turunkan cinta atasnya), tentunya menjadi impian setiap orang untuk mampu membentuk rumah tangga yang islami. Namun, tidak semua mengetahui dan memahami apa makna yang terkandung dalam sebuah rumah tangga Islami.
Dalam sebuah rumah tangga Islmi, terdapat beberapa hal mendasar yang menjadi ’bumbu pemanis’. Diantaranya yaitu kecintaan yang kemudian menumbuhkan romantisme dalam rumah tangga. Hal ini yang membentuk sebuah keharmonisan dan mendorong terciptanya ketenangan dalam rumah tangga.
Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Quran Surat Ar-Rum ayat 21 sebagai berikut.
”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYA adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-NYA diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Maka, sudah menjadi ketentuan Allah bahwa dalam rumah tangga yang Islami akan tercipta pula ketenteraman di dalamnya.
Namun, membangun rumah tangga Islami tentunya tidak dengan cara yang mudah, tetapi tidak pula berat untuk memulainya. Ada beberapa syarat untuk dapat membangun sebuah rumah tangga Islami.
  1. Niat
Niat yang ditumbuhkan yaitu untuk membangun ketaatan kepada Allah dan membangun keikhlasan atas ketentuan-NYA. Keikhlasan ini kembali pada niat yaiut diniatkan kepada Allah. Setiap hal ditempatkan pada tempat yang benar dan tepat, baik orang maupun waktu (masa).
Berkaitan dengan niat ini, Aisyah pun meriwayatkan dari Rosulullah berkata bahwa tidak ada hijrah setelah Fathhul Makkah, tetapi ada jihad dan NIAT. (mungkin ada yang tahu hadits lengkapnya?)
Lalu, apa sebenarnya makna sebuah keikhlasan??
Betapa agung makna yang terkandung dibalik keikhlasan. Ketenangan, keistiqomahan, dan dari kekikhlasan pula kita membangun pribadi yang tawadhu. Maka, jangan beranikan untuk menikah jika belum memiliki keikhlasan!! (penegasan dari ustadz Soleh).
Hmm... demikian dalamnya arti keikhlasan. Ya, sepertinya ini juga yang pernah disinggung dalam film ”kiamat sudah dekat”. Masih ingat bukan, ketika keikhlasan menjadi kunci penentu jadi tidaknya tokoh di film itu menikah.

2. Cinta
Letakkan cinta yang Allah berikan hanya untuk Allah. Rasa kasih sayang yang diberikan pada sesama muslim pun haruslah berlandaskan cinta kepada Allah.
Cinta akan menjadi manis ketika dilandasi keimanan kepada Allah. Sedangkan parameter manusia telah merasakan manisnya keimanan yaitu ketika hidup terasa tenang, dan tidak ada rasa iri.
Terdapat 3 perkara yang mendatangkan manisnya keimanan.
  1. Mencintai Allah dan Rosul-NYA melebihi kecintaan kepada yang lain.
  2. Mencintai seseorang karena Allah.  Ia adalah salah satu orang yang mendapat naungan ketika tidak ada naungan selain selain naungan Allah.
  3. Membenci tindakan kekafiran, kembali kepada kemaksiatan, sebagaimana ia membenci neraka.

Tidak dapat dipungikiri, bahwa terkadang, kita menetapkan kriteria untuk calon kita. Hal ini tentunya tidak dilarang, tetapi, alangkah baiknya kita lihat pula diri kita. Seperti apa kita, Allah akan berikan yang sesuai dan tepat. Maka, ketika kita menginginkan si Fulan atau si Fulanah menjadi suami atau istri, jangan berdoa ”jadikan ia istri/suamiku”. Ungkapan ini seperti ungkapan perintah. Tetapi alangkah baiknya, jika kita berusaha menjadi yang terbaik, ya, walaupun pasangan itu pun saling melengkapi kekurangan dan kelebihan.beberapa dari kita, termasuk saya, mungkin memang tidak meminta seorang yang sempurna, tetapi kita ingin seseorang yang ia pun membutuhkan kita untuk menjadi lebih baik. Selanjutnya serahkan semuanya kepada Allah, karena hanya Dia yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-NYA.

So, dari permulaan yang baik ini, berharap akan terbentuk rumah tangga-rumah tangga yang tegak di Atas Landasan Ibadah, dengan nilai-nilai Islam dapat terinternalisasi secara Kaffah, qudwah yang nyata, memposisikan masing-masing anggota keluarga sesuai syariat dengan kebiasaan Ta’awun dalam menegakkan adab-adab Islam, rumah terkondisikan bagi terlaksananya Peraturan Islam, tercukupinya Kebutuhan Materi secara wajar, Rumah Tanggga dihindarkan dari hal-hal yang tidak desuai dengan demangat Islam, hingga anggota keluarga terlibat Aktif dalam Pembinaan Masyarakat, dan Rumah Tangga terjaga dari Pengaruh Lingkungan yang Buruk. Dari karakter-karakter inilah diharapkan akan tumbuh dan berkembang generasi-generasi muda yang penuh loyalitas, dedikasi, dan bersemangat tinggi untuk turut menegakkan syariat Islam demi negara yang bermartabat.

Wallahu a'lam.

NB:
(Beberapa diambil dari Catatan Tatsqif 4 Desember 2009. bersama Ust. Solahudin)

Memaknai “azzam”



Berawal dari obrolan kocolan antara saya dan teman sepermainan.. (hehe.. lebih tepatnya teman senasib senekatan) ketika ban motor yang saya pinjem  bocor...sebut saja teman saya bernama M.
M: mi, kenapa si, kalo ant minjem motor mesti kena apes, ada rante kendo lah, ban kempes lah, spion copot lah, rante ganti lah....
Saya: iya jg ya.. 2 hari ini q jg mikir gitu ik.... nyadar juga.. knpa y.. apa peringatan dr Allah buatq biar g mnjm2 motor orang ya...
(maklum, belum dipercaya Allah punya motor sendiri.. insyAllah tahun depan bisa..hehe... *_*)
M: tapi ane kalo minjemin ant ni motor juga tulus, tetp aja ada aja yang kena, meski padahal biasanya ga rewel...
Saya: iya ya.... eh q jd inget... dulu tu nah, abis q kecelakaan 2 tahun yg llu, masih inget?
M: iya...
Saya: tu q ber azzam.. ga bakal minjem motor orang... seurgent apapun...( bukan soal bahaya buat nyawaq, tapi tu barang amanah temen juga, kalo ada apa2, silaturahim jadi taruhan )
M: nah lo, tu kali.. makannya ati2 kalo ngucap azzam...
Saya: bapak jg dulu ngasih wejangan, g usah mnjm2 brg org, meski dari lisan ngebolehin, ikhlas, sp yang tahu isi hati...
M: nah lo, tambah lagi omongna bapak ant tu..
(dalam hati.... wuih.. bener2 nakut2in nie....)
Saya: iya ya? Kalo istilahnya orang “bodoh “ tu kutukan......(hihi..  kaya di film2 aja!)
M: anti cabut omongan anti tu. mungkin perlu ngmg bapak jg, biar ngebolehin minjem2..
Ane: he-eh ya... abis q emg sebenernya g pgn tu mnjm2 brg orang, tapi gimana lagi.. kalo manajemen energi,   ni kaki modal Allah mah udah cukup kuat buat jalan sejauh apapun (alay.com), cuman kadang tu efektivitas waktu... ngejar waktu.. (apa lebih tapat dikejar waktu ya.. *_*)
Hmm.. harus ngomong ma bapak!
Sepulang dari obrolan tadi(tentunya selese nungguin tambal ban), langsung saya mnt ditelp rumah kalo bapak di rumah (catet... minta ditelp, bukan saya yang nelp.. abis bapak di rumah orang sibuk, ga mesti di rumah jam berapa.. sedikit nakut2in.. kata terakhir di sms yang saya kirim saya kasih kata “urgent”.. hehe..)
Akhirnya.... setelah terlelap barang Cuma beberapa menit.. (ketiduran.com), dapet telp jg dari rumah...
Dengan nada agak kwatir (kayaknya), suara bapak terdengar.. (wuih... adem rasanya...)
“ngapa?ana apa” (ngapak.net)
(kenapa?ada apa)
hehe... ngapunten bapak... sehat?”
(“hehe... maaf bapak.. sehat?”)
“ya sehat...”
“pak, q pen crita..”
(“pak, q mau crita”)
“crita apa crita apa...” wuih... antusias ni bapak mw ndengerin crita sok penting saya...
“Bapak seh kelingan ga, pas mbiyen hani bar tibo nganggo montor rencang arep ngelesi?”
(“Bapak masih inget ga, waktu dulu hani pernah kecelakaan waktu berangkat ngelesi pake motor temen”)
iye ye... nangapa”
(“iya ya.. kenapa?”)
“kan mbiyen bapak pernah ngei wejangan hani, ben ojo nyilih motor neh, barang  gede, nek ono opo2, nyawa juga...meski kancane ngomong rela, oleh diselang, tapi neng ati kan ra ngerti...”
(“kan dulu bapak pernah ngasih nasihat hani, agar nggak minjem motor lagi, barang mahal, kalo ada apa2, nyawa juga.. meski temennya ngomong rela, boleh dipinjem, tapi di hati kan ga ngerti...”)
jadi keinget.. abis  kejadian tu, mau pergi kemana2  dalam kondisi urgent sekalipun harus mengoptimalkan “kendaraan” dari Allah saja.......
“iye’...”
(iya..)
“nah, trus hani kan berazzam ga bakal nyilih motor....
Trus... ki.. saiki.. akhir2 iki hani sering kena apes ato apalah jenenge.. nek nyilih motor ono wae alangane, ban bocor lah, rante kendo kudu mbeneri lah, kudu ganti apa lah...”
(nah, trus hani kan berazzam ga akan minjem motor... trus, ni sekarang, akhir2 ini hani sering kena apes atau apalah namanya kalo minjem  motor ada aja halangannya, ban bocor lah, rante kendo harus mbeneri lah, kudu ganti apa lah...”
“lha? trus?hani ana duwite pora nggo mbengkelke???”
(lha? Trus?hani ada uangnya ga buat mbayar bengkel?)
dengan nada was2.....
 bapak bapak.... dalam crita kaya gini.. masih mengkhawatirkan kesejahteraan...)
“yo ana” (dengan nada mantap.. hehe..., kan di ada2kan..)
Masalahe dudu duwit bapak sayang.. hani kan ngobrol karo konco.. trus nyambung2ke kw.. wedine nek alanga2 iki mergo wejangan bapak mbiyen....”
ooowhh....ye ra sah ngono.. percaya bae,, kuwi ladang kading Gusti Allah ben hani iso sedekah.
Ternyata hani dingai kesempatan nggo sedekah cilik2 lewat kaya kuwi.. ngetes keikhlasan juga.. makane.... ws, sg penting hani tulus wae... ben oleh untung. Gusti Allah kan ngei kesempatan kowe nggo ibadah. Ibdah kan ora mung sholat, ngaji, puasa, tapi kuwi.. kesempatan2 cilik kowe beramal luwih akeh.. kan ibadah....niatke bae nggo kebaikan. kan wis ana janjine, siji (1) kebaikan dibales Allah pitungatus (700) kebaikan... lah.. ra sah mikir liya2ne..."
(owh... ya ga usah kayak gitu.. percaya saja.. itu ladang dari Allah biar hani bisa sodaqoh.
Ternyata hani dikasih kesempatan buat sodaqoh kecil2 lewat kaya gitu..nguji keikhlasan juga..  makanya, ya udah, yang penting hani tulus saja... biar dapat untungnya (pahala). Allah ngasih kesempatan buatmu ibadah. Ibadah kan ga Cuma sholat, ngaji, puasa, tapi itu.. kesempata2 kecilmu beramal lebih banyak.. kan ibadah...niatkan saja untuk kebaikan. kan sudah ada janji-Nya, 1 kebaikan akan dibalas Allah dengan 700 kebaikan... lah.... ga usah mikir lain2nya...)

Cliiiinnnngggg......grrrr........
(ati kroso mak nyeessss....iya ya... astagfirullahal’adzim.... kenapa saya ga mencondongkan ke arah fikiran itu..)
subhAnallah...
pelajaran berarti di tengah kepenatan dalam aktivitas kesehariakn.. berpikirlah positif atas apa yang menimpa kita..... ketika kita berusaha menjaga Allah, maka Dia pun akan menjaga kita, memberi peluang beramal dan beribadah dengan cara yang jarang terjangkau.



Seketika saya keinget salah satu icon di sebuah perusahaan.... “Logika Langit”
Sesuatu seringkali tidak terraih dengan akal manusia.. tapi betapa itu sangat mungkin dalam kuasa-Nya... bahkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk berbuat kebaikan pun, seringkali terbukti menjadi ladang yang Allah bukakan untuk kita beramal melaluinya.....




So... mari, niatkan hidup ini untuk kebaikan.. Fastabiq Khoirot.... berlomba2 dalam kebaikan..
Karena hidup.. bukan seberapa banyak kau meraih.. tapi seberapa banyak kau memberi.....
Khoirunnas anfa’uhum linnas.....

SURAT DARI IBU

Untuk anak-anakku,
Yang sedang bertanya-tanya
Tentang masa depan yang tersembunyi dan terbayang begitu jauh
Berharap-harap tentang hidup yang sedang dan akan dihadapinya
Anak-anakku,
yang sedang mencari keyakinan jiwa
Terhadap jiwa lain yang menjadi pasangan jiwanya
Anak-anakku,
Yang sedang gelisah
Menjalani hidup yang penuh ketidakpastian
Dan godaan-godaan yang memberatkan
Anak-anakku,
Yang semakin dewasa
Dan penuh dengan beban tanggungjawab kehidupan
Aku berdoa untuk kalian
Ya Allah,
Karuniakanlah kebajikan dan keteguhan hati kepada mereka
Jiwa-jiwa yang sedang tumbuh dewasa
Bersihkanlah jiwa mereka
Masukkanlah mereka dalam lindunganMu dan pemeliharaanMu

Anakku,
Pada mulanya engkau dan dia bertemu dalam ketidaksengajaan
Karena sejak mulanya adalah engkau dan dia dipertemukan
Oleh Tangan Gaib yang mengatur kehidupan
Dan sejak engkau bertemu lelaki bermata kuat
Dengan tatapannya yang tajam
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Engkau sering menyendiri duduk dalam gelap
bersenandung nyanyian kasmaran
Dan tersenyum entah untuk siapa
Nampaknya engkau tengah mabuk kepayang
memahat langit dengan angan-angan
mengukir malam dengan bayang-bayang
Jangan hanya diam engkau simpan dalam duduk termenung
Malam yang engkau sapa lewat tanpa jawab

Bersikaplah jujur dan terbuka
Tumpahkanlah perasaan yang sarat dengan cinta yang panas bergelora
Barangkali takdir tengah bicara
Telah datang seorang lelaki diperuntukkan buatmu
Dan pandangan matanya memang khusus buatmu
Mengapa engkau harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati kadang datang tak terduga
Bergegaslah bangun dari mimpi
Atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam
Anggap saja takdir tengah bicara
Ia datang dari langit buatmu dan pandangan matanya khusus buatmu

Engkau akan segera menyadari
Keadaannya tidaklah jauh berbeda
Takdir tengah bicara kepadanya
Ada yang tersentak dari dalam dadanya
Sejak ia bertemu denganmu gadis bermata lembut
Dan tatapanmu yang sejuk
Ia mengasingkan diri dari keriuhan
Merenungi keajaiban ruhaniah yang menggetarkan jiwanya
Bermalam-malam lewat tanpa jawab
Berharap-harap ia bertemu lagi denganmu
Menyusun angan-angan duduk berdua di bawah pohon cemara
Dan bercerita tentang sepasang burung yang bercumbu di atas dahan
Ia menyematkan kembang di rambut telinga kananmu

Lalu waktu yang engkau dan dia bayangkan pun tiba
Engkau bertemu dengannya berdiri di dekat duduknya
Tetapi ia hanya duduk terdiam
Engkaupun hanya berdiri terpaku berharap-harap
Ia berdiri mendekat ke hadapanmu dan menyapamu
Angin dan daunan dan waktu bercanda menunggu
Tetapi engkau dan dia tidak beranjak menyambut suara alam
Yang mengabarkan harapanmu terhadapnya
Dan mengabarkan hasratnya terhadapmu
Keraguanlah yang menyelimuti langkahmu
Engkau ragu keliru memahami pandangan matanya
Ketakutanlah yang menyelubungi langkahnya
Ia takut menemui kenyataanmu yang berbeda
Waktu berlalu dan engkau dan dia berlalu

Sejak ia berlalu dari hadapanmu
Sepi menggelayut di dalam dadamu dan rindu bayang-bayangnya
Sejak engkau berlalu dari hadapannya
Di dadanya bergelayut sepi dan rindu bayang-bayangmu

Engkau dan dia memang tidak seperti kanak-kanak lagi
Kanak-kanak tidak pandai berdusta apalagi terhadap perasaan di dada
Kanak-kanak yang begitu jujur tentang apa yang disukainya atau
dibencinya
Dan disampaikannya dengan tanpa beban
Sedang engkau menyembunyikan darinya
Perasaanmu yang bergelora
Dan dia menyembunyikan darimu
Hasratnya yang membara
Kedua-duanya bersembunyi dibalik harga diri

Mengapa engkau dan dia tidak bersegera mengikuti panggilan jiwa
Yang disatukan Tangan Gaib dalam cinta
Anugerah yang mengejawantah dalam dirimu dan dirinya
Pabila cinta telah memanggilmu ikutilah jalannya
Meski dibalik sayapnya yang anggun
Tersimpan pedang tajam melukaimu
Yakinlah anugerah gaibNya akan membimbing engkau dan dia
Dalam perjalanan yang menggembirakan betapa pun jauhnya

Apabila anugerah cinta telah melingkupi jiwamu dan jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipertemukan
Betapapun engkau tidak menginginkan
Atau dia tidak menghendaki
Apabila hanya hasrat dan gelora nafsu yang melingkupi jiwamu dan
jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipisahkan
Betapapun engkau ingin menemukannya
Atau dia ingin menemukanmu
Sesungguhnya atas kehendakNyalah engkau dan dia dipertemukan atau
dipisahkan

Nampaknya kegelisahanmu dan hasratnya
Hendak dipertemukan olehNya dalam cinta
Sehingga waktu membuatmu sering berhadapan dengannya
Dan ruang sering menempatkannya di dekatmu
Lalu engkau dan dia menjadi lebih mudah berbicara
Dan mendekatkan jiwamu dengan jiwanya
Sampai tiba waktu yang engkau dan dia tunggu
Benih yang dianugerahkan untukmu dan untuknya
Telah mulai bersemi dan tumbuh sebagai pohon cinta dengan cepatnya
Kalian menjadi sepasang kekasih yang saling mengikat janji setia

Sepasang kekasih saling menumpahkan perasaan
Mengikat waktu dengan memadu rindu
Saling bercerita tentang kegembiraan
Saling bercerita tentang kesedihan
Saling membagi tentang harapan dan beban
Memupuk pohon cinta dengan terbuka
Kepercayaan dan keikhlasan tentang hidup yang nampak atau tersembunyi
Memberikan dengan segala kerelaan kesempatan dan dukungan
Meminta dengan lembut pembelaan dan perlindungan
Memberikan pengertian dengan sepenuh hati dan pikiran

Sepasang kekasih saling menjaga dan memelihara
Karena ada kalanya di tengah waktu
Datang masa-masa yang mengganggu dan membingungkan
Menjadi masalah dan kemarahan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling membenci
Tentang keadaannya yang tidak engkau inginkan
Tentang keadaanmu yang tidak dia inginkan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling berdiam
Tentang ketidakmengertiannya terhadap keinginanmu
Tentang ketidakmengertianmu terhadap keinginannya
Anugerah cinta, harapan dan kedewasaan yang membimbing kalian
Membawamu kembali mendekat kepadanya
Membawanya kembali mendekat kepadamu
Lalu kalian saling bercerita
Tentang pemeliharaan dan penjagaan sepasang kekasih
Lalu kalian saling mengingatkan tentang pohon cinta yang kalian
ikrarkan

Di sepanjang perjalanan selalu datang kabut
Mengaburkan pandangan dan menghalangi tujuan hidup
Kekuatanmu dan kekuatannya dan anugerah cinta yang dapat
membersihkannya
Maka hanya kepadaNya berlindung dan berserah diri
Sepasang kekasih memohon penjagaan dan pemeliharaan
Sepasang kekasih memohon limpahan kasih sayang

Pohon cinta tumbuh subur dan semakin dewasa
Akarnya semakin kuat dan pokoknya semakin kokoh
Daunnya semakin rimbun meneduhi
Pohon dewasa yang siap berbunga dan berbuah
Dalam jiwamu mulai tumbuh perasaan-perasaan baru
Tentang tujuan dan harapan pohon cinta
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Engkau menjadi putik benih bagi hidup baru
Dan dia menjadi sari menghidupkan benih
Dalam jiwanya mulai tumbuh gagasan-gagasan baru
Tentang kedewasaan pohon cinta dan tujuan dan harapannya
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Akankah dia menikmatinya bermusim-musim

Malam-malam berlalu tanpa jawab
Kegelisahanmu dan kegundahannya dipertemukan dalam diam
Engkau tidak tahu bagaimana memulai kata ungkapan tentang perasaanmu
yang baru
Dia tidak tahu bagaimana menceritakan gagasannya yang baru
Kedewasaanmu dan kedewasaannya mendapat ujian
Menghadapi kenyataan dengan terbuka dan jujur
Bermalam-malam berlalu dengan doa
Engkau dan dia berdoa
Ya Allah,
Bersihkanlah diriku, jernihkanlah pikiranku, beningkanlah hatiku
Tunjukkanlah kepadaku keyakinan yang benar
Pilihkanlah bagiku asal yang baik dan akhir yang baik

Sampai tiba waktunya
Engkau dan dia dikuatkan
Saling membuka dan bercerita tentang hal yang sama
Dan kalian saling tertawa tentang kekakuan beberapa masa sebelumnya
Kalian saling memantapkan harapan dan tujuan
Kalian saling mengingatkan tanggungjawab dan kenyataan hidup
Kalian saling setuju hidup bersekutu

Maka atas KehendakNYa kalian dipersatukan
Atas NamaNya kalian menjadi Suami Istri dengan kasih sayang
Berjanji saling menjaga dan mengingatkan tentang kebaikan
Saling melindungi dan mendukung dalam kehidupan
Dan hidup menjadi lebih nyata dan membahagiakan

Begitulah kalian menjalani hidup bersekutu
Bulan-bulan berlimpah kegembiraan dan kesenangan
Memadu kasih dengan bahagia tanpa kesedihan dan kegelisahan
Seolah-olah hanya kalian berdua yang ada di dunia
Lalu waktu berjalan semakin panjang
Dan hidup menjadi semakin nyata
Keriuhan dan gejolak hidup menampakkan wujudnya

Engkau mengandung anakmu yang pertama
Lalu seperti mendapat jiwa lain bersemayam dalam tubuhmu
Engkau dan dia merasakan ikatan yang batin
Suamimu bergembira dan menjadi semakin dewasa
Sembilan bulan engkau menjaga anak dalam kandunganmu
Dengan susah payah yang bertumpuk
Ada kalanya engkau menyimpan marah dan kesal
Ada kalanya engkau begitu gembira dan bahagia
Penuh syukur dan doa kepadaNya

Ketika tiba saatnya
Beban kandungan semakin memuncak
Punggungmu semakin berat dan payah
Pinggangmu semakin pegal dan sulit bernapas
Anakmu mengabarkan waktunya semakin dekat
Dan engkau melahirkannya dengan kesulitan dan berat
Antara rasa hidup dan mati yang menyakitkan
Suamimu menjagamu dan menguatkanmu

Ketika suara tangis bayi terdengar
Manusia baru telah lahir di tengah-tengah keluargamu
Dan engkau merasakan kebahagiaan yang tinggi
Memeluk bayi basah begitu merah
Jiwamu penuh dengannya dan jiwanya mengenalimu sebagai ibunya
Udara seperti penuh malaikat-malaikat suci
Menyambut dengan doa kehadiran anakmu
Membisikkan kepadamu harapan-harapan dan janji dari Tuhan
Hidupmu menjadi begitu berharga dan mulia
Dan mendapat tempat istimewa di surgaNya
Engkau menjadi ibu
Suamimu menjadi bapak

Engkaupun mengasuh dan memeliharanya
Dengan kasih sayang yang berlimpah
Jiwamu terikat dengan jiwanya
Air susu yang engkau minumkan kepadanya
Menjadi air jiwa bagi anakmu
Dan kebahagiaannya meminum air susumu
Menjadi tali yang tidak pernah putus bagimu
Kemanapun engkau bepergian
Yang ada dalam hati dan pikiranmu hanyalah wajah mungilnya
Maka bila tiba waktu pulang
Engkau bergegas dan cepat-cepat hendak sampai rumah
Di halaman engkau dengar tangisnya
Ia mencium aroma tubuhmu lewat angin
Hatimu tersayat-sayat penuh dengan rasa rindu bergumpal-gumpal di
dadamu
Air susumu menetes karenanya
Tidak sabar engkau angkat dan engkau cium wajahnya
Disambutnya engkau dengan senyum dari mulut mungil
Dan mata lucu yang merasa aman pelindungnya telah datang
Diusap-usapnya dengan kedua tangan mungil kulit wajahmu yang lekat di
wajahnya
Seolah-olah dapat dipastikan olehnya halus kulit wajahmu
Matanya semakin berbinar
Mendapati air susumu yang segar dan menyehatkan
Dan hatimu semakin bersinar
Kebahagiaan yang bertumpuk di atas kebahagiaan
Engkau lupakan semua lelah dan payah yang engkau jalani
Menungguinya bermalam-malam tanpa tidur
Ketika merengek ia basah oleh ompol atau kotoran
Ketika menangis ia tengah malam haus atau lapar

Waktu terus berjalan
Engkau melihat anakmu tumbuh berkembang
Belajar berguling dan menengkurapkan tubuhnya
Belajar merangkak dan berjalan
Dan mengucapkan kata-katanya yang pertama
Engkau mengajarinya memanggilmu ibu
Dan memanggil suamimu bapak
Engkau mengajarinya tentang alam
Api itu panas es itu dingin
Obat itu menyembuhkan racun itu mematikan
Engkau mengajarinya makan dan memakai baju
Menyisirkan rambutnya
Sambil bersenandung lagu kesukaannya
Dan menggumam betapa eloknya anakmu
Kesukaanmu kepadanya bertambah-tambah
Ikatanmu terhadapnya semakin kuatnya

Sedikit saja ia luka terjatuh atau tersayat pisau
Engkau begitu khawatirnya
Seolah-olah darah yang tumpah itu adalah darahmu sendiri
Dan kulitmulah yang tersayat atau luka
Begitu sayangnya engkau kepadanya
Sehingga yang engkau ucapkan adalah rasa marah
Yang lalu rasa sedihmu sebab telah memarahinya
Membuatmu menggendongnya dan mengusap lembut lukanya
Dengan obat yang paling lunak tetapi menyembuhkan

Engkau melihat anakmu tumbuh semakin dewasa
Dan menghadapi hidup dengan jalannya sendiri
Engkau semakin kesulitan menghadapinya
Seolah-olah ia tidak dapat mengerti keinginanmu
Dan engkau tidak lagi mengerti keinginannya
Ia hidup dengan teman-temannya sendiri
Berbicara sedikit denganmu dan dengan suamimu
Ia seolah-olah semakin jauh
Engkau bimbang dan gagap menghadapi dunianya yang berubah
Rasa cintamu kepadanya begitu ingin
Mengikatnya dalam rengkuhanmu
Mengamankannya dalam dekapanmu
Menggendong dan mengelus wajahnya seperti ketika ia kecil
Sedang gagasanmu tentang tantangan hidupnya begitu ingin
Membebaskannya melakukan pencarian
Mendukungnya tumbuh dan belajar menghadapi masa depannya
Melepaskannya untuk hidup dalam masanya

Sampai tiba waktunya ia benar-benar menjadi dewasa
Dan memahami duniamu dengan lebih leluasa
Dan engkau memahami dunianya dengan lebih lega
Percaya dan ikhlas tentangnya
Yakin karena engkau telah membimbingnya dengan benar
Maka engkau berdoa untuk anakmu setiap malam dalam sujud

Ya, Allah,
Tunjukkanlah kepada anakku jalan yang benar
Dekatkanlah ia kepada jalanMu
Bimbinglah ia, jagalah ia, lindungilah ia
Berikanlah kepadanya keteguhan dan keyakinan yang kuat
Tabahkanlah ia menghadapi hidup
Dan sabarkanlah kami dan bimbinglah kami orang tuanya
Ya Allah,
Kami berserah diri kepadaMu

Tiba waktu bagi anakmu menemukan kekasihnya
Seperti engkau ketika muda
Engkau begitu ingin melihat kekasihnya
Dililit rasa cemburu karena perhatiannya kepadamu
Tidak lagi seperti dahulu
Ia lebih banyak bersama kekasihnya daripada bersamamu
Dan ketika bersamamu
Ia lebih banyak bercerita tentang kekasihnya daripada tentangmu
Engkau merasa akan tiba waktunya
Dan ketika anakmu menikahi kekasihnya
Waktu pun tiba
Engkau berpisah dengannya
Anakmu menjalani hidup sendiri
Mendiami rumahnya sendiri
Bersama dengan istrinya seperti engkau dahulu
Dan hidupmu seolah-olah kesepian

Waktu terus berputar
Dan kalian berdua menjadi begitu tua
Rambut memutih dan tubuh melemah
Kenangan berjalan satu-satu di depan mata
Engkau menjadi memiliki kesadaran dan memahami
Hidup ini bisa begitu mudah atau rumit
Tergantung bagaimana engkau melihat dan menjalaninya
Sekarang engkau telah tua sehingga engkau melihat
Apa yang dahulunya engkau anggap
Sebagai kerumitan dan kesulitan yang besar
Ternyata hanyalah hal yang sederhana dan mudah saja
Ternyata engkau lahir bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup
Engkau lahir adalah untuk hidup dan menjalani hidup
Engkau lalu menjadi begitu pasrah dan ikhlas
Menerima waktu yang semakin habis
Tubuhmu menjadi sakit dan terbaring di dipan
Anak-anakmu yang dekat maupun yang jauh berdatangan
Berdoa dan memohonkan ampun di samping dipan
Mengantarkanmu memenuhi waktu terakhir
Sampai akhirnya engkau pergi meninggalkan dunia dengan tenang
Anak-anakmu bahagia
Melihatmu tersenyum dengan tenang di saat terakhir
Menandakan keberhasilanmu menjalani hidup
Mereka mendoakan
Hidupmu lebih bahagia dan tenang
Di alam yang lebih kekal
Mereka bangga terhadapmu.
~ Kahlil Gibran ~

Jumat, 11 November 2011

Segumpal daging itu bernama “QULUB” (HATI)



Pernah merasa seseorang begitu menyebalkan?seseorang begitu menjengkelkan, hingga membuat dada terasa sesak? (bukan karenea asmanya kumat lho ya??^^)
Atau kamu pernah merasa karakter seseorang demikian menjengkelkan membuat Kamu terhalang untuk mencapai tujuan? Hmm.... pernah atau tidak pernah, yang pasti penulis pernah merasakannya. Seperti apa itu tidaklah penting, yang terpenting, sekarang ingin saya bagi seperti apa  hati melayani setiap perasaan yang singgah di sana.
Ketika Kamu merasakan perasaan-perasaan yang sudah saya sebutkan di atas, sepertinya Kamu perlu untuk meminta atau bahkan memaksa hati berkata:
Biarlah mereka menyebalkan yang penting saya tidak!
Biarlah mereka menjengkelkan yang penting saya tidak
Biarlah mereka tidak bertanggung jawab yang penting saya berusaha untuk selalu bertanggung jawab
Biarlah mereka tidak peduli dengan kepercayaan yang penting saya peduli
Biarlah mereka sering membuat saya kesulitan, yang penting saya berusa untuk selalu berusaha mempermudah urusan orang lain
Biarlah mereka tidak bersih yang penting saya berusaha untuk bersih
Biarlah mereka tak pernah menampak wajah cerah, yang penting sebisa mungkin saya berusaha sebisa mungkin selalu tersenyum di hadapan orang lain
Biarlah mereka selalu mengeluh, yang penting sebisa mungkin saya tidak “
Dan  bisikan-bisikan hati lain yang bisa Kamu manfaatkan untuk memenangkan perang dalam batin. Kata buku fenomenal Ranah 3 Warna, “Man shobaro Zafiro”, barang siapa bersabar maka ia akan beruntung. Siapa yang tidak mau untung??
Apapun perkataan yang sekarang sedang berbisik di hati Kamu, maka itu adalah tentang segumpal daging yang bernama HATI. Hati yang kata Rosul jika ia baik maka baiklah semua dan jika ia buruk maka buruklah semua, maka terserah Kamu mau menjadikan hatimu seperti apa.
Berbicara tentang Qolbu atau disebut juga hati, sesungguhnya ia memiliki dua pengertian, yakni fisik dan spiritual. Secara fisik hati merupakan daging yakni organ tubuh manusia yang tersimpan dan terlindungi oleh tulang belulang. Hati terletak di dada sebelah kiri. Bentuk hati seperti buah shanaubar sehingga sering dikatakan hati sanubari.Pada daging hati terdapat lubang dan jaringan yang halus (setidaknya ini teori yang saya peroleh dalam 4 tahun kuliah di keperawatan ^^). Di dalam lubang atau rongga terdapat darah hitam yang menjadi sumber ruh.
Hati secara spiritual merupakan sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaniah (kerohanian) dan mempunyai keterkaitan dengan hati yang jasmaniah. Hati yang halus ialah hakikat manusia. Hatilah yang mengetahui, yang mengerti dan yang mengenal diri sendiri. Hatilah yang diajak bicara, disiksa, dicela dan dituntut Tuhannya. Hati dalam pengertian ini juga memiliki kaitan dengan jasmaniah. Hati terkait dengan akhlak terpuji yang direalisasikan oleh gerak tubuh. Hati menentukan sifat dan watak manusia yang tampak secara lahiriah. So..jelas juga, bahwa kita, mampu menguasai hati jika kita yakin kita mampu. Ini pilihan, Kamu mau menguasai hati atau dikuasai hati?

Selamat berbicara dengan hati Kamu masing-masing. Hati-hati dengan hati, karena jika kau tidak menguasainya maka ia yang akan menguasaimu. ^_^
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad dinika wa ‘ala tho’atika”.
(“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.)

Kamis, 10 November 2011

SIAPA PAHLAWAN ANDA?




10 November, mungkin baik dan menjadi kebarokahan bagi kita untuk memaknai hari Pahlawan. Terinspirasi oleh status seorang fren di  FB tentang peperangan, terpikir bahwa memaknai “pahlawan’ jaman sekarang akan sedikit berbeda dengan masa sebelum kemerdekaan. Dulu, perang terjadi secara fisik, musuhnya real, dan perlawanannya juga dengan senjata dan strategi yang real. Sekarang, perang yang terjadi adalah Ghozwul fikr, perang pemikiran. Mulai dari pola makan orang barat dengan orang timur, cara berpakaian, hingga gaya hidup bahkan beragama. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis saat ini. Terserah gaya hidup dan pola makan seperti apa yang sekarang Anda pegang. Itu prinsip, yang pasti, asal tidak bertentangan dengan syariat, maka itulah yang terbaik.
Dalam tulisan ini, saya hanya ingin sedikit berargumen tentang sosok “pahlawan” dalam hidup saya. Jika pahlawan Indonesia, pasti semua sudah sangat mudah untuk mencarinya (cari aja di mbah google ^_^). Tapi, sudahkah Anda menemukan sosok yang heroik dalam sepanjang hidup Anda? Mungkin pernah menyelamatkan barang-barang berharga Anda, atau menyelamatkan hidup Anda? Ini yang ingin saya share kepada Anda.
Bagi kebanyakan orang, pahlawan akan selalu berarti sesorang yang memberi kebermanfaatan untuk Anda..(so, banyak banget pahlawan ya.. termasuk mbok2 yang keliling jualan sarapan pagi itu.. ^^). Tapi bagi saya, sosok heroik yang sejauh ini hinggap dalam hati saya adalah... BAPAK. Ya.. mungkin banyak yang berpikiran sama, tapi itu juga tidak penting untuk dibahas disini..hehe..(apatis.com). BAPAk disini adalah yang memberi begitu banyak kebermanfaatan untuk saya. Dari saya lahir, membelikan ini dan itu, hingga saya dewasa tau bahkan ketika mennjelang “hari berarti” bagi saya ketika seseorang hendak “mengambil” saya darinya, maka BAPAK masih memberikan kebermanfaatan yang melimpah. Mungkin tak sedikit juga yang merasa memiliki BAPAK yang tidak begitu berarti.. tapi bagi saya, BAPAK adalah pahlawan dalam hidup saya dan memberi saya modal untuk menghadapi kematian kelak. So.. hal terpenting adalah, BAPAK  pula yang telah memperkenalkan saya pada Islam sedari saya lahir (katanya si ada adzan dan iqomah di telinga saya). Oopss... Bagaimana dengan IBU? Maaf, untuk itu, akan berbeda pembahasan ^^ (tunggu saja tanggal terbitnya).
Oke, kembali ke sosok BAPAK yang heroik bagi saya. Hidup ini tak terlepas dari Cinta dan kasih sayang. Termasuk dalam perjuangan hidup setiap orang. Adakah yang tidak pernah menebar atau bahkan merasakan cinta?? Maka ada yang perlu Anda perbaiki dalam mindset hidup Anda! Saya berani menjaminnya.. Hidup pada prinsipnya mencari kebarokahan, dan itu akan dapat kita raih melalui cinta.. Allah saja Maha Pengasih...
Kembali ke tema.... pahlawan, ya, BAPAK adalah sosok heroik bagi saya.. Pahlawan cinta atau apapun Anda menamainya, yang pasti BAPAK menghantarkan saya untuk belajar hidup. BAPAK hanya menghantarkan, selanjutnya saya sendiri yang harus menemukan ilmunya. Statement ini saya rasa sangat cocok untuk Anda yang merasa BAPAK Anda biasa-biasa saja. Seperti apapun BAPAK Anda, maka ia adalah guru bagi kita. Baik atau tidak, maka ia menghantarkan pada kita untuk mengetahui “Baik” dan ‘tidak baik”.  Yach.... begitu banyak cara mengungkap rasa cinta dan kasih sayang. Kebanyakan dengan tersenyum, memeluk, mencium atau meamnjakan untuk mengungkapkannya. Tapi cinta BAPAk, saya rasa unik. Dengan latar belakang BAPAK  yang saya lihat merasakan betapa kerasnya hidup, seumur hidup, mungkin baru satu kali saya mendengar kata “BAPAK cinta kamu, kamu cinta ga sama Bapak?”. Itu pun ketika umur saya masih di bawah 15 tahun yang belum mengenal prinsip dari cinta (mau membayangkan ekspresi saya dulu seperti apa...?). Tapi, saat ini, 6 hari menjelang usia saya 23 tahun (oopss... sudah berumur ternyata), saya demikian sadar begitu banyak kebermanfaatan yang diberikan BAPAK saya. BAPAK tidak pernah melarang atau memerintah saya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, yang dulu sempat membuat saya iri pada teman-teman yang serba dilarang atau serba diberi saran oleh BAPAK mereka dalam mengambil keputusan. Setiap kali saya meminta pendapat untuk sesuatu, BAPAK tidak pernah menjawab melainkan “karepmu, kwe bisa menentukan dhewe sg apik go kwe” “Terserah kamu, kamu bisa menentukan sendiri yang tebraik buatmu” Bagi Anda yang justru merasa iri dengan kebebasan saya dalam memilih, maka memang Anda HARUS iri pada saya!
Yach, ternyata, rasa iri yang dulu sempat sayarasakan itu salah besar! Sangat besar! Tentu saja. Karena ternyata, kebebasan itu demikian banyak maknanya bahkan akan tidak cukup beratus-ratus lembar untuk menjelaskan maknanya. (Tapi disini, saya akan membuatnya cukup). Tentu, makna pertama, adalah KEPERCAYAAN. BAPAK demikian percaya pada saya bahwa saya tahu yang baik. Setidaknya itu terbukti, sampai detik ini sya masih berpredikat baik minimal bagi keluarga saya.. ^^
Makna kedua, adalah PEMBELAJARAN. Surely, BAPAK memberikan pembelajaran pada saya dengan bebas memilih dan menilai mana yang harus saya pilih dan  mana yang harus saya tolak.
Makna ketiga, adalah PERJUANGAN. Dengan kebebasan ini, BAPAK mengajarkan pada saya bahwa setiap pilihan yang saya ambil, harus diperjuangkan, karena memang saya yang memilih. Tidak mungkin sesuatu yang sudah saya pilih justru saya lempar pada orang lain kan.
Makna Keempat, TANGGUNG JAWAB. Dengan pilihan yang saya ambil, maka saya menemukan konsekuensi-konsekuensi yang harus saya hadapi da n saya selesaikan.
Makna keempat, TRUTH, kenyataan, reality. Ya! BAPAK menunjukkan secara tidak langsung tentang kenyataan hidup yang terus saya temui hingga detik ini. Tentang hidup yang keras, tentang hidup yang pantas untuk diperjuangkan, dan tentang Islam.

Masih banyak makna lain yang tidak sanggup saya tuliskan disini (capek ngetiknya...), tapi satu yang paling penting bagi saya, BAPAK mengantarkan saya dengan TIDAK LANGSUNG untuk menemukan jalan hidup..way of live.. ISLAM! Saya menemukan bahwa hidup memang harus diperjuangkan, sebagaimana dalam Q.S. Ar-Ro’du: 11, “Innallaha la yughoyyiru biqoumin, hatta yughoyyiru bi anfusihim”. Ya, Allah tentu tidak langsung mengubah hidup saya, Allah ingin melihat ikhtiar saya dalam setiap yang saya inginkan. BAPAK juga membuat saya menemukan bahwa Islam menginginkan saya YAKIN, karena Allah tidak akan memberi ujian hidup pada saya melebihi “kapasitas” yang saya miliki, La yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Sekali lagi, BAPAK pun membuat saya menemukan ilmu bahwa kita harus berSABAR, karena akan ada kemudahan setelah kesulitan , Inna ma’al usri yusro, FA INNAL MA’AL USRI YUSRO! Masih banyak lagi yang BAPAK tunjukkan tanpa mendampingi saya secara fulltime. Maka, bagaimana mungkin saya tidak menyebut beliau sebagai PAHLAWAN. Meski saya mungkin belum menjadi orang yang dikenal dunia, tapi minimal, saat ini saya sudah mengenal dunia, dan BAPAK yang memperkenalkannya secara tidak langsung... Exactly, masih banyak ilmu dunia lainnya yang belum saya sadari, masih banyak bukti cinta Allah mengirimkan bapak seperti BAPAK kepada saya dengan segenap rasa cinta. Saya masih butuh banyak pencerahan untuk bisa menggenggam dunia, hingga suatu saat, bukan hanya saya yang mengenal dunia, tetapi dunia mengenal saya.

I DO LOVE YOU....BAPAK!(statement ini tidak cukup untuk membalas cintamu...BAPAK)


Bagaimana dengan BAPAK Anda? Sudahkah Anda menemukan cinta dari cara BAPAK Anda mendidik Anda?
Semoga Bermanfaat
Selamat hari pahlawan, dan semangat memaknai setiap pahlawan dalam hidup Anda!
HIDUP MULIA MATI SYAHID!
 
 
 
Terima Kasih Untukmu yang Mengukir Senyum BAPAK... (soon..)

Ma'nal Hayah (Makna Hidup)

Satu pelajaran hidup (lagi) yang perlu kita fahami dan resapi…
Mungkin kau pernah merasa kecewa, atau bahkan marah atas hidup yang sekarang kau miliki….
Ketika melihat sisi kehidupan orang lain yang mungkin kau pandang lebih indah (dalam penglihatan kita)…. Yach.. rumput tetangga memang lebih hijau.
Pernah, merasa demikian mudahnya orang di sekitar kita mendapatkan apa yang dicita-citakan banyak orang (termasuk kita mungkin), bahkan TANPA bersusah payah berlari atau membanting tulang untuk mendapatkannya, sementara kita… demikian beratnya langkah yang harus diambil, demikian beratnya punggung harus memikul untuk bisa, sekedar dihadapkan pada peluang yang kita inginkan.
Atau... pernah meraih sesuatu yang kita raih dengan segala perjuangan tetapi tak berbaas dengan kebahagiaan orang2 yang kita harapakan? sementara dalam hidup orang lain, demikian mudahnya membuat bahagia orang2 yang dicintai, tanpa tetes keringat, ar\ir mata, bahkan darah...
Itulah Hidu... mengajari kesabaran.. mengajari keikhlasan.. dan mengaari keteguhan dalam perjuangan...
Ketika keimanan tidak lagi ada dalam hati-hati kita..sungguh, kematian bukanlah ujung yang indah, karena hatit elah mati mendahuluinya...
Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”,
"Allah tidak akan menguji mu, melainkan sesuai batas kemampuanmu" (al-ayat)

Allah TIDAK akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya… satu modal adalah YAKIN, bahwa Allah itu DEKAT, dan pertolongan Allah adalah DEKAT. Ketika kau optimis akan sebuah rencana yang demikian indahnya (dalam pandangan manusia) maka ingatlah bahwa DIA jaaaauuuuh lebih tahu, dan memiliki rencana untuk kita yang Jauuuuh lebih indah.
Dunia mungkin hanya menilai dari hasil, tapi yakinlah....akhirat… menilai proses pula.. (Wallahu a’lam)

Maka…. Bersyukurlah dalam keadaan apapun.
"La insyakartum, la aziidannakum, wa lainkafartum, inna ‘adzabi lasyadiid"

Satu rasa syukur, akan berlipat pada kenikmatan yang lebih melimpah. Dan adzab Allah adalah nyata pedihnya untuk kaum yang mengkufuri nikmat-Nya.
Maka… wahai jiwa yang dihadapkan pada kelimpahan peluang.. manfaatkanlah!!!
Bukan untuk meraih "hasil", tapi sebagai wujud syukurmu yang tak semua orang mendapatkannya.
Wahai jiwa yang dalam segala keterbatasan, tetaplah tegar dengan kaki kokohmu, yakinlah bahwa Allah ada dalam setiap nafas dan detak jantung kita… Tetaplah dalam perjalanan dan perjuanganmu.
Jangan minta beban yang ringan, tetapi mintalah punggung yang kokoh untukmu mampu memikul ujian dari Allah...
Allah bersama orang-orang yang sabar dalam kerja kerasaya..
Fa idza azamta fatawakkal ‘alAllah…

Wallahu a’lam…
Semoga bermanfaat...