Minggu, 30 Juni 2013

MENCARI FORMULA KOMUNIKASI TERAPEUTIK UNTUK PASIEN: MERAWAT, BUKAN “MEMANJAKAN”



2 bulan 8 hari, terhitung dari tanggal 21 April 2013, saya menginjakkan kaki di kota hujan ini, mencoba mengabdi untuk pasien-pasien Di RS. Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, Bogor. Awalnya, saya menikmati pekerjaan ini. Mengaplikasikan ilmu mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia, hingga pentingnya “sekedar” monitoring balance cairan untuk memastikan pasien tidak mengalami perburukan penyakit. Saya menikmati satu demi satu ilmu yang akhirnya dapat saya aplikasikan untuk pasien dengan berbagai kondisi disini, dari penyakit “sekedar” gangguan termoregulasi (suhu-red), hingga pasien-pasien yang dalam fase terminasi (parah-red). Seiring berjalannya waktu, saya (dituntut) untuk belajar menyadari, bahwa ilmu memang tak cukup hanya textbook. Hafal saja tidak cukup membantu, apalagi untuk berbagai textbook yang belum dikuasai. Tidak ada pengecualian dalam pembelajaran untuk paramedic seperti kami. Body-mind-spirit yang tampak mudah dalam textbook pun terasa rumit untuk diterapkan, “hanya” karena persoalan manajemen waktu. Beberapa abstrak selesai saya garap evidence based untuk melihat sinergisitas ilmu teoris dan klinis.Dan saya puas dengan karya itu.
Namun, seiring berjalannya waktu pula, saya mulai menemukan “kejanggalan-kejanggalan” yang berupa “fluktuasi” perasaan dalam menyikapi (karakter) pasien disini. Rumah sakit yang tengah saya tempati memang “unik”. Di tengah berbagai berita RS yang menolak pasien karena tak memiliki kemampuan finansial, RS ini MENOLAK-bahkan “mengusir” dengan halus pasien yang tak lolos kememberan (kelayakan) untuk menerima santunan DD- pasien yang memiliki cukup financial. (Meski saya belum tahu parameter lulus tidaknya kememberan untuk bisa berobat di RS ini.) Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan bagi saya akhir-akhir ini, perbedaan kondisi antara yang “seharusnya” dengan yang “biasanya”. Beberapa ketidaksinergian antara yang semestinya dan yang biasanya, serta mengapa yang biasanya dinilai cenderung lebih representative untuk keberhasilan dalam edukasi pasien dan keluarga dalam rangkaian perawatan.
Semestinya, perawat mampu memberikan perawatan komprehensif, yang melihat pasien sebagai holistic human, merawat dari hal paling sepele-memandikan pasien atau  memenuhi KDM- dari aspek fisik hingga spiritual mereka. Namun, dalam penerapannya, implementasi acivity daily learning tampak sebagai implementasi yang memanjakan pasien. Bahkan saya cukup tersindir dengan dikatakan sebagai “kamu perawat baik, say amah perawat jahat” karena kedekatan saya dengan pasien, dan cara edukasi serta perawatan khusus saya.
Tak ada yang patut disalahkan. Perbandingan 1:8 atara perawat dan pasien, menuntut kami untuk melibatkan keluarga dalam perawatan pasien. Meski banyak pula karakter keluarga pasien yang “dikasih jantung minta hati”. Tak cukup pengobatan full free, tapi menginginkan pelayan prima yang tak menerima alasan apapun. Juga dengan karakter “rewel” yang pantang kami sebut rewel, melainkan keunikan pasien dan keluarga.
Masih melekat dalam ingatan, saat dosen saya mengatakan bahwa munculnya masalah “ulkus dekubitus” adalah KESALAHAN perawat yang tidak memperhatikan kompresi punggung pasien bedrest. Dalam berbagai aksus di tempat ini, untuk masalah pruritus atau gatal di punggung pun sering kali tidak terjamah oleh perawat. Saya sadar, dan saya mengaku malu, ketika suatu waktu masalah “keringet buntet” yang ternyata muncul pada pasien sudah 3 hari tidak terdeteksi oleh saya dan rekan-rekan sejawat. 24 jam waktu perawatan pasien oleh 3 shift perawat ternyata belum “apik” untuk diaplikasikan disini. Saya sadar, saya pun SEMESTINYA belajar dari pengalaman, bahwa sebenarnya masih ambigu tentang formulasi terbaik dalam hubungan antara perawat dan pasien, dalam komunikasi terapeutik perawat terhadap pasien, dalam setiap intervensi perawat terhadap pasien, khususnya dalam karakter pasien di RS sejenis ini, dengan karakter pasien pendidikan di bawah rata-rata.
Pun ketika intervensi “building trust” coba saya implementasikan, memunculkan masalah ketergantungan pasien terhadap perawat. Baru kali ini pula, terfikir bagi saya pentingnya kesan “galak” perawat bagi pasien. 24 jam melayani pasien dalam kelembutan hanya menjadi “kelembekan”, membuat mereka “”manja, setidaknya begitu istilah rekan kerja saya. Dan seringkali saya akui itu. Komunikasi-komunikasi halus kami, seringkali justru disalahgunakan oleh  mereka. Komunikasi tanpa “kesan jutek” hanya membuat mereka manja, yang berujung pada lamanya proses penyembuhan mereka. Sebagaimana mendidik anak kecil dengan 2 pilihan, dalam didikan keras dan lembut, maka itu pula pilihan yang ada dalam menghadapi pasien. Hanya, disini “ketegasan” juga menginisiasi complain “langsung” mereka kepada manjemen yang berimbas pada tataran pelayanan.
 “Kelembekan” kami, seringkali membuat mereka tak segan sedikitpun atas kami. “Meminta” hal sekecil apapun yang sebenarnya tidak “pantas mereka minta”, setidaknya sebagai sesama manusia untuk bisa saling “memahami”. Dalam kesibukan, bahkan seringkali pasien memanggil kami, “sekedar meminta untuk dibukakan makanan-misal. Atau keluarga yang meminta untuk ikut diperiksa saat saya memeriksa tekanan darah pasien 1 ruangan yang berisi 8 bed berisi full pasien, saat pasien meminta obat berulangkali meski edukasi atas keluhan yang muncul juga sudah diberikan berulang kali, saat pasien yang seolah-olah mengajari kami saat kami memberikan obat dengan “rute” pemberian obat yang kami berikan. Meski kadang saya bisa memakluminya sebagai efek “tekanan” pasien dan keluarga atas sakit yang tak kunjung sembuh, namun saat kesabaran dalam keterbatasan kelelahan fisik membuat kami ingin memperbaiki “paradigm” teori komunikasi terapeutik. Meski saya pun seringkali merasa bersalah usai “menolak” pemrintaan tolong yang kami nilai di luar prioritas. Sungguh…, kami hanya ingin prioritas tindakan untuk pasien terpenuhi, dalam keterbatasan tenaga fisik. Prioritas dari lifesaving hingga pemenuhan ADL, meski masih banyak pula complain dari keluarga pasien. Kami hanya menginginkan yang terbaik untuk kondisi terbaik bagi pasien atau penerima manfaat.
Kini, adalah tugas untuk masing-masing tenaga paramedic yang menjadi “frontdesk” dalam pelayanan kesehatan. Komunikasi seperti apa yang semestinya diterapkan, sehingga terbentuk hubungan “profesional” yang menumbuhkan perasaan yang “TEPAT” bagi mereka. Untuk sebuah hubungan yang tidak dipandang serba salah. Bukan “galak” juga bukan memanjakan. Mendidik dalam perawatan prima , bukan memanjakan dengan pelayanan prima.  Memprioritaskan prioritas, dan memanajemen diri. Saat tugas ini terpenuhi, dengan peningkatan kapasitas perawat dalam segala aspek keilmuan medis, adalah bukan hal yang mustahil untuk menjadikan perawat sebagai “professional” baik secara hakikat maupun “perspektif dan persepsi” penerima manfaat keilmuan kami. [MH]


(Tulisan ini dibuat dari sudut pandang perawat sebagai tenaga medis yang mencoba untuk professional dalam segala aspek perawatan, tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun. Jika pun ada yang kurang berkenan, semoga menjadi bahan tenungan bersama.) ^_^ V

Bogor, 29 Juni 2013
23:55



Jumat, 24 Mei 2013

SAKIT PERUT....? WASPADA!!



Abdomen (perut) merupakan salah satu bagian dari anggota tubuh manusia yang cukup unik. Sederhana jika kita lihat dari permukaan, hanya berdiameter beberapa cm (kecuali untuk hal-hal yang abnormal), namun terdapat cukup banyak organ di dalamnya. Abdomen juga salah satu region yang menampung darah terbanyak dalam tubuh sehingga "memperparah" kondisi seseorang ketika terdapat trauma pada lokasi abdomen. Karenanya, dalam pemeriksaan fisik, khususnya bagian abdomen ini, terdapat beberapa yang harus diperhatikan. Inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi harus dilakukan sesuatu urutan. Jika IAPP tidak dilakukan sebagaimana urutan, pastinya akan membuat bias dalam hasil pemeriksaan. Sebagai misal jika kita melakukan auskultasi setelah palapasi atau perkusi, pastinya bising usus sudah terpengaruhi karenanya. 

Kali ini, saya “sekedar” ingin mengingat kembali berbagai organ di masing masing region sehingga dapat mengidentifikasi nyeri perut yang terasa pada masing-masing region. 
Sebelumnya, abdomen dibagi menjadi 4 region, namun kali ini saya ingin membagi abdomen dalam 9 region.

Berikut 9 region yang dimulai dari kanan atas ke bawah





Nyeri pada masing-masing region dapat mengidentifikasi adanya beberapa kemungkinan sakit berikut ini.
 
Hipokondria kanan: batu empedu, ulcer lambung, pancreatitis
Epigastrik: ulcer lambung, heartburn/indigesti, pancreatitis, batu empedu, hernia epigastrik
Hipokondria kiri: ulcer lambung, ulcer duodenal, kolik, pancreatitis
Lumbar kanan: batu ginjal, infeksi saluran kencing, konstipasi, hernia lumbar
Umbilical: pakreatitis, apendisitis awal, ulcer lambung, radang usus, usus halus, hernia umbilical
Lumbar kiri: batu ginjal, diverticular disease, konstipasi, radang usus
Iliac kanan: apendisitis, konstipasi, nyeri pelvis (reproduksi), nyeri pangkal paha (inguinal hernia)
Hipogastrik: infeksi saluran kencing, apendisitis, diverticular disease, radang usus, nyeri pelvis (reproduksi)
Iliac kiri:penyakit diverticular (tonjolan keluar berbentuk kantung), nyeri pelvis (reproduksi),   nyeri pangkal paha (inguinal hernia)


Sekian knowing hari ini, jika merasakan keluhan pada bagian-bagian tersebut, saya rasa bisa menjadi deteksi dini untuk waspada.

Minggu, 05 Mei 2013

Ketika Teori “Body-Mind-Spirit” diperuntukkan Pasien Rawat Inap






Kulihat keningnya terus berkerut sepanjang malam hingga pagi menjelang. Mungkin tak lama setelah 30 menit mata terpejam, ia kembali terbangun karna ketidaknyamanan yang ia rasakan. Tangannya kurus, tapi oedem di kedua kakinya terutama kaki kiri membuatnya tak nyaman. Belum lagi dengan BAK yang terus membanjiri tempat tidurnya karena DC/Downk Catheter alias selang kateter pipis tak bisa dipasang untuknya. Kompres hangat tidak lagi menjadi intervensi yang cukup baginya. Ia baru terpejam tampak tidur terlelap tanpa kerutan kening setelah 1 ampul Tramadol ekstra saya berikan, tentunya dengan persetujuan dokter jaga yang baru mengangkat teepon konsulan pada panggilan saya yang kedua. Ia tampak terlelap, dan dengan tega, jam setengah 6 pagi saya bangunkan karna ada obat yang harus masuk. 

Sebelum menyelesaikan shift malam, saya tutup dengan aktivitas membantu personal higien pasien ini. Alhamdulillah, sedikitnya pasien dengan keadaan umum yang baik, malam ini memberi saya waktu yang cukup untuk membantu PH pasien.

Bermula dari permohonan maafnya karena merasa sudah menyusahkan saya sepanjang malam, meminta maaf karena tak mampu melakukan apapun sendiri bahkan  utnuk mengangkat kakinya. Ya, manusiawi, tanpa keluarga yag mendampingi di saat sakit seperti ini, merasa menjadi orang tak berguna. Orang mana yang tak mau dimanjakan saat sakit parah menerpanynulis dan pembaca pun mungkin sering mencari perhatian bahkan “sekedar” karena flu. Ia pun mempertanyakan mengapa sakitnya tak kunjung sembuh, meski sempat saya hibur  bahwa dosa-dosanya terhapus dengan sakitnya itu, insyAllah, dan janji-janji-Nya yang lain.

Ia menangisi 3 anaknya yang tak kunjung datang bahkan untuk sekedar tahu kondisinya. Juga suami yang sudah menikah lagi 2x. saya tak bisa menilai langsung keluarganya karena ini cerita yang saya dengar dari satu pihak. Tapi benar tidaknya, satu hal yang saya inginkan adalah agar tidak ada orang lain yang merasakan hal serupa pasien ini. saat seperti ini, saya sadar betul bahwa keikhlasan dan kesabarannya benar-benar diuji, yang mungkin saya sendiri belum tentu mampu melewatinya. Tanpa keluarga, dalam kesakitan yang sangat, dan masih dalam pertanyaan-pertanyaan kenapa ia masih dalam sakitnya yang begitu lama, air matanya pun terus keluar saat aku mencoba ceritakan sebuah pengalaman-yang saya dapatkan juga dari cerita orang- akan pasien yang sakit karena rasa dendam, amarah, kekecewaan, yang belum ammpu hilang oleh rasa ikhlas. Mungkin bagi sebagian cerita ini ibarat “logika”langit yang tidak semua orang mampu dan mau menerima serta mencernanya. Tapi bagi saya, itu sangat masuk akal. Sebagaimana saat air liur seperti akan menetes jika kita terbayang tau sekedar mendengar “mangga muda”, rujak, dan lain sebgainya. Artinya, tubuh kita bisa jadi dikuasai oleh pikiran kita yang kemudian diresapi oleh hati. Ketidakseimbangan sistem dalam tubuh bisa jadi (sekali lagi, BISA JADI) karena kekacauan dalam pikiran atau “kotoran” dalam hati. Pikiran kotor, tak tenang, penyakit-penyakit hati, kebencian, kemarahan,dendam, kedengkian, saya rasa semua ikut andil dala mempengaruhi sistem tubuh kita. Maka dari itu, teori body to body dan mind to mind, kini telah disempurnakan dengan teori spirit to spirit. (Apresiasi untuk tim riset “The spirit of self care” keperawatan undip yang turut mengembangkannya). Belum banyak yang saya tahu tentang teori-teori ini. tapi satu hal yang saya pahami adalah bagaimana menumbuhkan spirit, semangat, yang kemudian menjadi “pupuk” untuk tubuh pasien.

Hadirnya body (tubuh), mind (pikiran), emosi, dan spirit sebagai fondasi kehidupan manusia telah diterima dalam budaya-budaya asli sejak ribuan tahun yang lalu dan saat ini semakin diperkaya dalam dialog dan pengalaman sehari-hari. Dalam budaya Jawa dikenal konsep “Manunggaling Kawula Gusti”, ajaran Syekh Siti Jenar (1426) -- meski terdapat pro dan kontra tentang ajaran ini (termasuk apakah ia benar-benar pernah ada ataukah dia adalah sebuah filosofi). Arti dari Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya saya dan Tuhan), tidak berarti Syekh Siti Jenar menyebut dirinya sebagai Tuhan dan juga bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya. Konsep ini menyatakan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh dari Tuhan, dan persatuan kehendak manusia dalam kehendak Tuhan akan berimplikasi pada pertanggungjawaban manusia terhadap alam (lingkungannya), yang disebut hamamayu hayuning bawana (http:// id.wikipedia.org /wiki/ Syekh_Siti_Jenar).

Dalam hal ini, konsep body-mind-spirit sudah semestinya dimasukkan dalam intervensi keperawatan. Mungkin di awal perkuliahan pendidikan perawat, masih ingat matkul fundamental keperawatan yang mendiskusikan teori sehat. Bagaimanakah konsep manusia sehat itu?Menurut WHO, dampak ‘sehat’ seseorang tidak hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan, tetapi juga bagi lingkungan sosialnya. Jadi, tanpa orang lain yang mengakui bahwa ia sehat secara mental (misal diterima oleh orang lain dan menerima orang lain), ia bukanlah seorang yang sehat secara utuh. Individu yang positif body-mind-and spirit secara integratif pasti berdampak positif pula bagi lingkungan sosialnya. Semakin seseorang mengenali sumber kekuatan di dalam dirinya maka akan positif sikap pada dirinya.Di sisi lain semakin seseorang mengenal lingkungan sekitarnya, (seharusnya) semakin ia mampu memahami, mengontrol, dan menghadapinya secara efektif (Ray, 2004). Kedua aspek tersebut paling tidak menjadi mediator penting sehingga kehidupan internal seseorang pada akhirnya bermuara dalam kualitas kehidupan masyarakat di mana ia turut memberi kontribusi.
 
Integrasi body-mind-spirit internal tidak mungkin dapat lepas dari apa yang terjadi di luar diri. Kontek kembali menjadi hal yang penting dan tidak bisa diabaikan.Nah, bercermin pada pemahaman ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: “Di manakah kita berada? Sudahkah kita meletakkan kedua kaki secara integratif ? Alih-alih menambah masalah masyarakat, sudahkah kita mempertimbangkan konteks sejarah dan kebutuhan masyarakat untuk mengambil bagian seoptimal mungkin?” Visi misi yang holistik seharusnya terinternalisasi dalam berbagai bentuk konkrit yang implementatif.

Berawal dari berbagai pemahaman ini, pasien ini aku tantang dengan dua “TUGAS”, menemukan kebencian/kemarahan, dan memaafkan serta melupakannya.


“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, yang menghilangkan segala petaka, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Engkau, sebuah kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Al-Bukhari)


Satu lagi, menjelang pulang, si pasien menyisipkan selembar kertas warna hijau bertuliskan nominal Rp 20.000,-..  ^_^ (Tebak… diterima nggak….?)

Bogor, 05-05-13